Showing posts with label Routing. Show all posts
Showing posts with label Routing. Show all posts

Tuesday, April 30, 2019

Lab 6 Mikrotik Routing - Routing Filter

Assalamu'alaikum

Selamat pagi, salam networking!!. Melanjutkan kembali pembahasan OSPF pada mikrotik. Kali ini saya ingin menjelaskan mengenai OSPF Routing Filter. Tentu seperti kebanyakan routing-routing pada umumnya, mikrotik juga menyediakan fitur OSPF Network Filter. Langsung saja bagaimana cara melakukan filter pada mikrotik OSPF. Berikut pembahasannya.

Monday, April 29, 2019

Lab 5 Mikrotik Routing - OSPF Redistribute Routes

Assalamu'alaikum

Selamat sore, salam networking. Melanjutkan pembahasan tentang Routing OSPF di mikocok. Kali ini saya ingin membahas tentang Redistribute route selain OSPF ke dalam routing OSPF. Langsung saja bagaimana cara meredistribute another routes kedalam jaringan OSPF berikut pembahasannya.

Cisco OSPF : Lab 2 - Virtual Link dengan GRE Tunnel

Assalammu'alaikum

Selamat siang, salam networking!!. Melanjutkan pembahasan artikel sebelumnya terkait virtual link OSPF Cisco. Kali ini kita akan mencoba virtual link namun dengan menggunakan GRE Tunnel. Pembahasan ini merupakan kelanjutan dari pembahasan virtual link, bisa cek disini. Karena disini saya menjelaskan metode selain fitur virtual link yang di sediakan OSPF.

Cisco OSPF : Lab 1 - OSPF Virtual Link

Assalamu'alaikum

Selamat siang, salam networking!! Melanjutkan kembali pembahasan chapter routing cisco. Setelah usai membahas chapter 1 mengenai routing EIGRP, di pembasan kali ini saya ingin melanjukan ke chapter 2 pembahasan mengenai routing OSPF. Sebelumnya OSPF sudah pernah saya jelaskan di 50 lab cisco. Kali bisa cek pembahasannya disini, karena saya tidak menjelaskan basicnya lagi tapi langsung ke pembahasan virtual link. Cek juga pembahasan platform mikrotiknya Mikrotik OSPF Virtual Link.

Sunday, April 28, 2019

Cisco EIGRP : Lab 13 - EIGRP Stub

Assalamu'alaikum

Selamat sore, salam bucin. Membahas kembali pembahasan networking tepatnya di pembahasan materii Cisco EIGRP routing dinamic. Judul pembahasan kali ini adalah terkait tentang EIGRP STUB. Apa itu eigrp stub dan apa fungsinya pada routing dinamic EIGRP? Langsung saja berikut pembahasannya.

Tuesday, March 5, 2019

Cisco EIGRP : Lab 12 - Equal dan Non Equal Load Balancing

Assalamu'alaikum

Selamat siang, salam networking. Berjumpa lagi di pembahasan mengenai routing EIGRP chapter 1 yang di bahas pada materi jaringan routing protocol. Kali ini saya akan membahas tentang Equal dan Non Equal Load Balancing menggunakan routing protocol EIGRP. Jadi nantinya dengan menggunakan EIGRP, suatu network tertentu akan bisa kita arahkan menggunakan 2 jalur yang sama dalam hal ini disebut sebagai load balancing atau lebih kearah materi ECMP (Equal Cost Multi Path). 

Friday, March 1, 2019

Dynamic Routing Protocol - OSPF

Assalamu'alaikum

Selamat siang, salam networking. Melanjutkan kembali pembahasan mengenai konsep routing jaringan dinamic. Di pembahasan kali ini saya ingin melanjutkan terkait konsep routing jaringan dynamic ospf yang dimana ospf ini merupakan routing yang paling sering digunakan suatu organisasi atau perusahaan dalam mengambangkan jaringan yang terstruktur antara kantor pusat dengan kantor cabang biasanya. 

Wednesday, February 27, 2019

Dynamic Routing Protocol

Assalamu'alaikum

Selamat siang, salam networking!! Selamat datang kembali disini bersama saya membahas masalah seputar teknologi dan tutorial jaringan. Di kesempatan kali ini saya ingin membahas mengenai konsep routing dynamic. Jika di pembahasan routing jaringan lebih kearah konsep dasar atau fundamental teknologi sebuah route, gateway, distance dll. Di pembahasan kali ini saya lebih membahas kearah fitur fitur routing dynamic yang memiliki kelebihan kekurang serta fungsinya masing masing. 

Saturday, February 9, 2019

Cisco EIGRP : Lab 11 - Change Route Using Bandwidth Method

Assalamu'alaikum

Selamat siang, salam networking. Tancap gas terus, setelah pagi tadi saya publish mengenai change route dengan menggunakan delay method. Sekarang saya akan menjelaskan dengan menggunakan bandwidht method. Tepatnya di ubah sama seperti delay, namun di pembahasan kali ini, value bandwidhtnya yang di ubah. Cek artikel sebelumnya, Cisco EIGRP : Lab 10 - Change Route Using Delay Method.

Cisco EIGRP : Lab 10 - Change Route Using Delay Method

Assalamua'alaikum

Selamat pagi, salam networking. Akhirnya setelah sekian lama membahas mengenai banyak hal di luar jalur networking :v saya kembali gaiss. Melanjutkan pembahasan routing eigrp tempo hari yang sebelumnya kita membahas tentang redistribute routing ospf ke eigrp, di pembahasan kali ini saya ingin membahas mengenai change route atau istilah indonya pindah jalur. Ada kaitannya juga dengan load balancing dan fail over juga yang sebelumnya juga sudah saya bahas. Langsung saja berikut pembahasannya. 

Monday, February 4, 2019

ECMP - Routing Mark dan Firewall Mangle di Mikrotik

Assalamu'alaikum

Selamat siang, salam networking. Melanjutkan pembahasan mengenai ECMP yang berisi mengenai pembahasan load balancing atau multi jalur akses, cek ECMP - Load Balancing, Distance dan Fail Over di Mikrotik. Karena metode yang digunakan sebelumnya pembagian load balance berdasarkan address. Di metode kali ini saya akan membahas metode pembagian load balance berdasarkan koneksi akses. Dalam hal ini bisa menggunakan metode routing. Langsung saja berikut pembahasannya.

Saturday, February 2, 2019

ECMP - Load Balancing, Distance dan Fail Over di Mikrotik

Assalamu'alaikum

Selamat siang, salam networking. Berjumpa lagi di pembahasan networking setelah lama tidak di bahas. Di kesempatan kali ini saya akan menjelaskan mengenai load balancing, distance dan fail over pada Mikrotik. Ketiga fungsi ini saling berkaitan satu sama lain. Apa hubungan ketiga fungsi ini? Langsung saja berikut pembahasannya.

Saturday, April 14, 2018

Network Infrastructure MAN 5 - Inter-Connection Diverse Internet Service Provider

Assalamu'alaikum

Selamat pagi, salam networking. Kembali lagi bersama sama pada salah satu material yang membahas tentang bagaimana koneksi intranet bisa terjadi dalam suatu jaringan internet. Yang dimana konfigurasi yang dilakukan adalah menggunakan salah satu metode yang pernah saya pelajari saat berada di salah satu perusahaan yang pernah saya tempati. Langsung saja, kita akan melanjutkan materi yang tertunda kemarin, kali ini kita akan membahas tentang interkoneksi intranet dengan menggunakan protocol routing ospf dan juga interkoneksi intranet dengan menggunakan ISP yang berbeda.

Topology 

Unntuk topology masih kelanjutan dari chapter sebelumnya di materi MAN ke 4, yang di interkoneksikan disini adalah bagaimana cara menghubungkan site jakarta dengan datacenter (intranet local loop) dan cara menghubungkan site bekasi dan tanggerang ke Datacenter (interkoneksi menggunakan beda ISP).


Bagi kalian yang menjalankan project menggunakan GNS3, kalian bisa menggunakan interface loopback dengan menambahkan switch dan host ke arah interface loopback pada windows kalian. Hal ini dikarenakan router yang akan kita fokuskan untuk di konfigurasi adalah R1 (datacenter), R8 (jakarta), R.Bekasi dan R.Tanggerang. Ke empat router ini sebaiknya diarahkan ke interface loopback windows agar kita bisa mengkonfigurasinya menggunakan winbox. Untuk info jelasnya biisa cek pada link berikut Cara Menambahkan Interface Loopback Pada Windows.




Interkoneksi Pure Intranet 

Yang pertama kita hubungkan disini adalah interkoneksi intranet yang sudah disediakan jalur link oleh satu ISP yang sama, artinya disini kita akan menghubungkan antara R1 (Datacenter) dengan R8 (Jakarta). Lalu di chapter ini sebenernya apasih yang perlu kita hubungkan lagi? Semua interkoneksi main link memang sudah terhubung. Namun, untuk interkoneksi antar jaringan lokal Datacenter dengan jaringan lokal site Jakarta belum terhubung. Karena itulah kita perlu menyiapkan interkoneksi ini.




Langsung saja, yang pertama kita konfigurasi disini adalah ip address untuk interface lokal pada 2 router yang sudah saya sebutkan tadi. Untuk ip bebas, disini saya menggunakan ip 10.10.0.1 untuk R1 (Datacenter) dan 10.10.1.1 untuk R8 (Site Jakarta).
 

Setelah itu kita konfigurasi protocol routingnya, disini saya menggunakan OSPF untuk interkoneksi penghubung jaringan lokal antar site. Pada konfigurasi OSPF yang perlu di konfigurasikan adalah interface untuk advertising yaitu port 2 (jalur intranet atau localloop) dan port 3 yang merupakan jalur ke jaringan lokal masing masing site. Jangan lupa set router ID dan terakhir advertising network yang di perlukan.

[admin@Datacenter] > routing ospf interface add interface=ether2
[admin@Datacenter] > routing ospf interface add interface=ether3
[admin@Datacenter] > routing ospf instance set 0 router-id=0.0.0.1
[admin@Datacenter] > routing ospf network add network=10.10.0.0/24 area=backbone
[admin@Datacenter] > routing ospf network add network=20.20.20.0/24 area=backbone

[admin@Jakarta] > routing ospf instance set 0 router-id=0.0.0.2
[admin@Jakarta] > routing ospf interface add interface=ether2
[admin@Jakarta] > routing ospf interface add interface=ether3
[admin@Jakarta] > routing ospf network add network=10.10.1.0/24 area=backbone
[admin@Jakarta] > routing ospf network add network=20.20.20.0/24 area=backbone

Setelah ditambahkan, kita cek kembali tabel routing masing masing router apakah network lokal lawan yang di advertising sudah masuk ke masing masing tabel routingnya. Seperti pada keterangan tabel routing Datacenter, network lokal site Jakarta sudah masuk pada tabel routing. Dengan begini interkoneksi antar jaringan lokal di Datacenter denga site Jakarta sudah terhubung.

[admin@Datacenter] > ip route print
Flags: X - disabled, A - active, D - dynamic, C - connect, S - static, r - rip, b - bgp, o - ospf, m - mme,
B - blackhole, U - unreachable, P - prohibit
 #      DST-ADDRESS        PREF-SRC        GATEWAY            DISTANCE
 0 A S  0.0.0.0/0                          103.77.145.1             10
 1 ADC  10.10.0.0/24       10.10.0.1       ether3                    0
 2 ADo  10.10.1.0/24                       20.20.20.2              110
 3 ADC  20.20.20.0/24      20.20.20.1      ether2                    0
 4 ADC  103.77.145.0/30    103.77.145.2    ether1                    0

Interkoneksi Antar ISP yang Berbeda

Seperti yang kita tau, tentunya ada beberapa site yang menggunakan ISP yang berbeda karena disebabkan beberapa faktor seperti tidak tercakupnya layanan ISP pertama pada site yang di tunjukan. Karena hal tersebut ada kemungkinan bahwa kita harus menghubungkan interkoneksi antar ISP yang berbeda tersebut. Metode yang digunakan yaitu OSPF + VPN. 

Langsung saja, karena disini saya menggunakan PPTP, yang pertama harus kita lakukan adalah mengenable service vpn PPTP. Service ini di enable pada R1 (site Datacenter)



Setelah itu kita create ip pool untuk koneksi vpnnya. Untuk membedakan antara interkoneksi single ISP dengan multi ISP, disini saya menggunakan ip range 20.20.20.10 - 15an. Masukan konfigurasi ip pool pada profile vpn PPTPnya untuk site Bekasi dan Site Tanggerang.


Setelah profile dibuat, tinggal kita buat aksesnya pada tab secrets. Gunakan username dan password keamanan yang kalian butuhkan. Pada pilihan profile masukan profil yang sudah dibuat tadi sesuai dengan akses user password yang kalian konfigurasikan.


Setelah menambahkan PPTP service pada site Datacenter, sekarang tinggal kita koneksikan saja akses vpnnya pada router yang bersangkutan yaitu router Bekasi dan router Tanggerang. Caranya dengan mengkoneksikannya pada menu PPP, service pptp client. Masukan ip publik data center lalu login menggunakan user dan password sesuai yang sudah di konfigurasikan sebelumnya.

Eitts, belum selesai gaess. Masih ada yang perlu kita tambahkan. Yaitu konfigurasi interkoneksi jaringan lokalnya. Secara gateway, memang antara R1 dengan R.Bekasi sudah terkoneksi. Namun, kita perlu mengkoneksikan jaringan lokalnya agar nantinya ketika ada kendala disisi lokal site yang bersangkutan masih dapat kita akses. 

Yang perlu kita tambahkan sebagai langkah akhir disini adalah menambahkan routing ospf untuk mengadvertise network R.Bekasi agar dapat dikenali di Site Datacenter maupun di Site lainnya. Sehingga, kita tambahkan ospf interface pada Interface ether2 (yang kearah lokal) dan interface VPN yang merupaka interkoneksi ke DataCenternya. Setelah itu jangan lupa untuk menambahkan routerID untuk bekasi, lalu masukan network yang sesuai pada interface yang diadvertisekan.

Lalu bagaimana dengan R.Datacenternya? apakah perlu ditambahkan interface VPN agar hasil advertise diberikan ke R.Bekasi? Jawabannya adalah tidak perlu. Hal ini dikarenakan network 20.20.20.0/24 sudah di advertise oleh routing OSPF pada R.Datacenter. Sehingga secara otomatis, tabel routing akan langsung menerima hasil advertise dari R.Bekasi.
 
[admin@bekasi] > routing ospf interface add interface="Vpn Backbone"
[admin@bekasi] > routing ospf interface add interface=ether2
[admin@bekasi] > routing ospf instance set 0 router-id=0.0.0.3
[admin@bekasi] > routing ospf network add network=20.20.20.0/24 area=backbone
[admin@bekasi] > routing ospf network add network=10.10.2.0/24 area=backbone
[admin@datacenter] > ip route print
Flags: X - disabled, A - active, D - dynamic, C - connect, S - static, r - rip, b - bgp, o - ospf, m - mme,
B - blackhole, U - unreachable, P - prohibit
 #      DST-ADDRESS        PREF-SRC        GATEWAY            DISTANCE
 0 A S  0.0.0.0/0                          103.77.145.1             10
 1 ADC  10.10.0.0/24       10.10.0.1       ether3                    0
 2 ADo  10.10.1.0/24                       20.20.20.2              110
 3 ADo  10.10.2.0/24                       20.20.20.10             110
 4 ADo  10.10.3.0/24                       20.20.20.11             110
 5 ADC  20.20.20.0/24      20.20.20.1      ether2                    0
 6 ADo  20.20.20.1/32                      20.20.20.10             110
 7 ADo  20.20.20.1/32                      20.20.20.11             110
 8 ADC  20.20.20.10/32     20.20.20.1      <pptp-bekasi123>          0
 9 ADC  20.20.20.11/32     20.20.20.1      <pptp-tanggeran...        0

 10 ADC  103.77.145.0/30    103.77.145.2    ether1                    0
Demikian penjelasan mengenai chapter 5 dari material interkoneksi jaringan intranet pada sebuah perusahaan. Semoga mudah dipahami dan dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dari saya, saran dan pertanyaan bisa letakkan di kolom komentar. Terima kasih sudah berkunjung, salam networking.

Konsep Routing Jaringan

 

Assalamu'alaikum

Selamat malam, salam networking gaesss. Mumpung ada kesempatan, saya ingin kembali sharing mengenai routing concept. Karena sebelum-sebelumnya kita sudah mencoba berbagai konfigurasi yang berkaitan dengan routing, memang seharusnya sudah ada dasar pengetahuan mengenai routing itu sendiri. Namun ada beberapa pemahaman penting yang mungkin perlu kalian ketahui mengenai penjelasan detail dari routing.

Mulanya...

Seiring dengan perkembangan zaman, tentunya dalam bidang teknologi juga melakukan perkembangan. Tentunya jaringan dan internet adalah sekumpulan perangkat yang saling terhubung secara fisik hingga menghubungkan dunia atau sering juga kita dengar motto mikrotik (routing the world). Sehingga mendapatkan atau mengirimkan informasi apapun akan mudah diakses oleh siapapun dan dimanapun. 




Tentunya hal ini tidak didasari oleh perangkat fisik saja, melainkan firmware atau software teknis yang menjalankan kinerja dari perangkat perangkat yang berada dalam fisik penghubung jaringan internet ini. Mari kita sebut itu sebagai program untuk menjalankan kinerja perangkat router atau switch atau perangkat jaringan lainnya. 

Dalam program untuk menjalankan perangkat tersebut banyak function yang bisa kita terapkan atau kita konfigurasikan sesuai apa yang diperlukan oleh router untuk melakukan aktifitasnya. Salah satunya yang kita bahas kali ini adalah routing yang merupakan protokol untuk menghubungkan satu dua perangkat agar menghasilkan kumpulan perangkat yang saling berinteraksi di jaringan internet.

Konsep Dasar Routing

Untuk memahami routing, tentunya ada dasar yang harus kalian ketahui terlebih dahulu. Yaitu bagaimana perintah yang harus kita berikan untuk menghubungkan perangkat yang berbeda agar kedua perangkat bisa saling berbagi informasi. Pada dasarnya routing terbagi menjadi dua yaitu routing statik dan juga routing dynamic. Dan yang perlu kalian tau dari routing dinamic ini bukan berarti routing akan berjalan otomatis semudah yang kalian bayangkan. 

Kedua routing ini sama-sama memerlukan tahapan konfigurasi yang membutuhkan logika dan pemikiran "apa sih yang harus di konfigurasikan". Bedanya adalah metode konfigurasi yang dilakukan. Yaitu routing statik adalah memilih jalur secara manual agar perangkat bisa terhubung kesana dan routing dinamic yang sifatnya advertising (mengiklankan) yaitu mengenalkan dirinya pada routing yang lain. 

Routing Statik

Sedikit saya review ulang tentang routing statik yang sebelumnya pernah kita bahas. Routing statik adalah dimana kita mengkonfigurasi manual tujuan network yang kita inginkan (dst-address) dengan menggunakan pintu mana (gateway). Dua poin ini sangat penting dalam menjalankan routing statik, hal ini digunakan untuk mengarahkan paket data agar diarahkan jalurnya. 




Gateway
Gateway tidak hanya berada pada perangkat router saja, kalian bisa menemukannya pada konfigurasi ipv4 yang berada pada windows kalian. Dalam hal ini banyak yang salah kaprah mengenai gateway pada konfigurasi pada komputer. Karena perlu kita ingat bahwa gateway digunakan untuk pintu yang menghubungkan ke network yang berbeda. Jadi, gateway tidak benar benar perlu dikonfigurasikan ketika kita hanya ingin menghubungkan 2 perangkat di network yang sama.

Bedanya gateway pada PC dengan router adalah pada PC tidak perlu mengkonfigurasikan Dst-Address (address tujuan). Hal ini dikarenakan PC merupakan end user pada sebuah jaringan komputer. Dimana end user ini pasti ingin mengakses semua address tujuan menggunakan gateway yang dikonfigurasikan.


Administrative Distance
Secara default jalur routing statik biasanya akan digunakan sebagai jalur utama, hal ini biasanya dikarenakan distance yang digunakan routing statik adalah 1. Semakin kecil distance yang digunakan, maka jalur tersebutlah yang akan di prioritaskan. Nilai dari distance dapat berupa angka lain (0-255) dan secara default sudah tersetting pada setiap protocol routing yang digunakan. Contohnya : 
  • Connected Routes : 0
  • Static Routing : 1
  • eBGP : 20
  • OSPF : 110
  • RIP : 120
  • MME : 130
  • iBGP : 200
Selain itu, distance protocol routing 255 adalah route yang akan di reject routing filter. Yang menandakan bahwa setiap distance bisa kita ubah numbernya. Semakin kecil distance, maka semakin di prioritaskan jalur tersebut sebagai main link.

Routing Policy
Pada dasarnya router akan menggunakan tabel routing yang utama sebagai jalur utama akses internet. Namun, kita bisa menentukan jalur mana yang akan dilalui sebuah paket. Routing policy ini sering kita sebut sebagai marking paket dan mengarahkannya. Hal ini sudah pernah saya bahas dalam penjelasan marking akses gateway pada mikrotik, kalian bisa cek kembali pada link berikut ini Job Experience 3 - Routing Management And Firewall Mangle.

Time To Live (TTL)
TTL adalah suatu nilai pada paket data yang tersimpan pada header paket yang memiliki fungsi jumlah lompatan dari router ke router sesuai nilai TTL yang dimiliki pada paket tersebut. Nilai default TTL adalah 64, dan maksimumnya adalah 255. Setiap melewati perangkat layer3 (router), maka nilai TTL akan berkurang 1. Dan router tidak akan melewatkan paket data jika nilai TTL yang dia terima bernilai 1.

Dan begitulah kiranya mengenai konsep dasar routing yang perlu kalian tau mengenai routing statik. Selanjutnya di ada kesempatan lain, kita akan membahas konsep routing dan istilah istilah yang perlu kalian ketahui mengenai routing dinamic. Sekian dari saya, semoga artikel ini bermanfaat untuk kalian dan terutama untuk diri saya sendiri.  Saran dan pertanyaan bisa letakkan di komentar. Terima kasih sudah berkunjung, salam networking.

Wednesday, December 13, 2017

Cisco EIGRP : Lab 9 - Redistribute OSPF

Assalamu'alaikum

Selamat malam, selamat berjumpa lagi di lab routing eigrp cisco kali ini. Masih melanjutkan tentang distribute routing lain ke routing eigrp. Kali ini, kita akan membahas bagaimana cara mendristibusikan routing OSPF ke routing EIGRP. Langsung saja di simak pada penjelasan berikut ini gaess.



Topology

Seperti biasa kita akan menggunakan topology dibawah ini. Dengan address yang mudah di konfigurasikan juga pastinya. Dan juga pastikan untuk mengkonfigurasikan terlebih dahulu address di masing masing interface dan juga advertisekan pada routing EIGRPnya.
  • Setting ip di setiap interface router termasuk loopback 
  • Setting Router EIGRP dengan network di setiap link directly-connected dan No Auto-summary pada semua router

Menambahkan Interface Loopback 

Selanjutnya, untuk melakukan simulasi distibusi routing OSPF ke EIGRP, kita akan coba menambahkan interface lo1 pada R1. Lalu advertisekan ke routing OSPF 5. 

R1(config)#int lo1
R1(config-if)#ip addr 111.111.111.1  255.255.255.255
R1(config-if)#ex
R1(config)#router ospf 5
R1(config-router)#net 111.111.111.1 0.0.0.0  area 0

Redistribute OSPF to EIGRP

Setelah itu untuk mendistribusikannya, kita bisa menggunakan perintah berikut ini. Yaitu dengan mendistibusikan OSPF 5 ke EIGRP 10. Sama seperti artikel sebelumnya, metric yang digunakan adalah 1 1 1 1 1, sebagai perwakilan dari 5 parameter utama dari routing EIGRP. 


R1(config)#router eigrp 10
R1(config-router)#redistribute ospf 5 metric 1 1 1 1 1

Pengecekkan

Sehingga ketika pengecekkan tabel routing pada R3, routing OSPF tersebut sudah muncul dari hasil distribusi advertising OSPF ke EIGRP. Sehingga status route bersifat EX yang menandakan route external selain routing EIGRP yang digunakan pada ketiga router tersebut.
 
R3(config-router)#do sh ip ro
Codes: C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
       D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
       N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
       E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2
       i - IS-IS, su - IS-IS summary, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2
       ia - IS-IS inter area, * - candidate default, U - per-user static route
       o - ODR, P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

     1.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
D       1.1.1.1 [90/2300416] via 23.23.23.2, 00:04:41, FastEthernet0/0
     2.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
D       2.2.2.2 [90/156160] via 23.23.23.2, 00:04:41, FastEthernet0/0
     3.0.0.0/8 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C       3.3.3.3/32 is directly connected, Loopback0
D       3.0.0.0/8 is a summary, 00:04:38, Null0
     23.0.0.0/8 is variably subnetted, 2 subnets, 2 masks
C       23.23.23.0/24 is directly connected, FastEthernet0/0
D       23.0.0.0/8 is a summary, 00:04:41, Null0
     111.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
D EX    111.111.111.1
           [170/2560514816] via 23.23.23.2, 00:00:10, FastEthernet0/0
     12.0.0.0/24 is subnetted, 1 subnets

D       12.12.12.0 [90/2172416] via 23.23.23.2, 00:04:45, FastEthernet0/0
Demikian penjelasan singkat mengenai redistribute routing OSPF ke EIGRP. Semoga artikel ini membantu kalian. Sekian dari saya, saran dan pertanyaan silahkan letakkan di komentar. Terima kasih sudah berkunjung, salam networking.

Wednesday, November 29, 2017

Cisco EIGRP : Lab 8 - Redistribute RIP

Assalamu'alaikum

Selamat sore, salam networking. Kita lanjut lagi materi routing eigrp, kali ini kita masuk ketahap redistribute. Redistribute ini adalah metode mendistribusikan routing lain agar masuk ke routing EIGRP kita. Metode ini dilakukan ketika ada routing protokol yang berbeda dari router lain atau juga bisa bahkan dari router kita sendiri. Langsung saja kita mulai labnya, cek pada penjelasan berikut ini gaess. 

Topology

Lanjut ke materi selanjutnya yaitu EIGRP redistribution RIP. Kita bisa mendistribusikan routing protokol lain ke dalam routing EIGRP. Semisal pada lab ini kita akan mendistribusikan routing protocol RIP pada routing EIGRPnya. Langsung saja, berikut topology yang akan digunakan.
 
Pertama-tama konfigurasikan terlebih dahulu konfigurasi berikut ini.
  • Setting ip di setiap interface router termasuk loopback 
  • Setting Router EIGRP dengan network di setiap link directly-connected dan No Auto-summary pada semua router

Konfigurasi Routing Rip

Jika sudah, kita konfigurasikan Routing RIP-nya. Tapi sebelum itu, kita harus membuat loopback terlebih dahulu untuk menyetting network agar network tersebut bisa disetting pada routing RIPnya. Jadi setting loopback1 pada R1.

R1(config)#int lo1
R1(config-if)#ip addr 111.111.111.1  255.255.255.255
Jika kita sudah punya network untuk di advertise, sekarang kita advertisekan network tersebut pada routing RIP dan pastikan tidak di auto summary.

R1(config)#router rip
R1(config-router)#ver 2
R1(config-router)#net 111.111.111.1
R1(config-router)#no au

Konfigurasi Distribusi Rip To Eigrp

Maka routing RIP telah tersetting. Tinggal mendistribusikan routing RIPnya ke routing EIGRP. Caranya dengan menggunakan perintah berikut ini. Perintah redistibute rip ini pun harus menggunakan perintah metric 1 1 1 1 1. Hal ini dikarenakan routing eigrp memiliki 5 parameters utama yaitu bandwidht, delay, reability, load, dan mtu. Sehingga kelima parameter diwakilkan oleh angka 11111. 5 paramater yang disebutkan tadi mungkin akan saya jelaskan di artikel yang berbeda, jadi simpan rasa penasaran anda sampai waktunya tiba gaess :v.

R1(config)#router eigrp 10
R1(config-router)#redistribute rip metric 1 1 1 1 1

Pengecekkan

Maka pada tabel routing R2 atau R3 terdapat rute yang menunjukan bahwa routing yang disetting pada R1 di redistribute dari RIP. Symbol yang ditunjukan adalah EX, yang berarti external EIGRP. External eigrp ini bisa berupa routing protokol yang lain juga seperti ospf. Tergantung dari routing yang di distributenya.

R3(config)#do sh ip ro
Codes: C - connected, S - static, R - RIP, M - mobile, B - BGP
       D - EIGRP, EX - EIGRP external, O - OSPF, IA - OSPF inter area
       N1 - OSPF NSSA external type 1, N2 - OSPF NSSA external type 2
       E1 - OSPF external type 1, E2 - OSPF external type 2
       i - IS-IS, su - IS-IS summary, L1 - IS-IS level-1, L2 - IS-IS level-2
       ia - IS-IS inter area, * - candidate default, U - per-user static route
       o - ODR, P - periodic downloaded static route

Gateway of last resort is not set

     1.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
D       1.1.1.1 [90/2300416] via 23.23.23.2, 00:05:44, FastEthernet0/0
     2.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
D       2.2.2.2 [90/156160] via 23.23.23.2, 00:05:44, FastEthernet0/0
     3.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
C       3.3.3.3 is directly connected, Loopback0
     23.0.0.0/24 is subnetted, 1 subnets
C       23.23.23.0 is directly connected, FastEthernet0/0
     111.0.0.0/32 is subnetted, 1 subnets
D EX    111.111.111.1
           [170/2560514816] via 23.23.23.2, 00:00:09, FastEthernet0/0

     12.0.0.0/24 is subnetted, 1 subnets
D       12.12.12.0 [90/2172416] via 23.23.23.2, 00:05:47, FastEthernet0/0

Demikian penjelasan singkat mengenai redistribute routing protokol Rip ke Eigrp. Semoga menambah wawasan kalian gaess. Sekian dari saya, saran dan pertanyaan bisa letakkan di komentar. Terima kasih sudah berkunjung. Salam networking!!

Lab 4 MikroTik Routing - OSPF Routing Cost

Assalamu'alaikum

Selamat pagi, salam networking. Berjumpa lagi dengan saya, kali ini kita bahas material routing ospf mikrotik lagi gaess. Materi yang saya ingin jelaskan kali ini adalah tentang cost. Kemarin juga sempat dibahas di arikel ospf cloud core, dan barangkali ada yang belum puas dengan penjelasan disana :v. Maklum gan, ngejer deadline jadi mosting artikel ngga beraturan wkwkw. Langsung saja berikut pembahasan mengenai cost pada routing OSPF.

Membuat Route Yang Di inginkan

Ada kalanya ketika dilapangan kita ingin menentukan jalur mana yang harus packet data lalui untuk mencapai destination. Karena hal tersebut routing cost atau cost dalam ospf ini sangat diperlukan untuk menentukan jalur yang ingin dilalui tersebut. Routing cost ini adalah sebuah perhitungan nilai atau sebut saja jarak berdasarkan angka yang ditentukan oleh seorang engineer.  

Secara default routing cost bernilai 10 pada setiap interface. Perhitungan cost akan terhitung dari router asal ke router tujuan. Sehingga ketika melalui 4 hop, cost yang dihasilkan otomatis bernilai 40. Tentu saja, nilai cost ini bisa kita ubah menjadi nilai yang lain pada interface yang kita inginkan. Dan cost terkecil lah yang akan digunakan router untuk menentukan jalurnya melalui ospf. 

Mengapa penggunaan cost ini sangat penting? Hal ini dikarenakan, adanya perbedaan status jalur yang dilalui setiap packet data. Contohnya saja perbedaan status interface seperti fast ethernet dan gigabit ethernet. Dengan begitu, seorang network engineer yang mengetahui informasi link bisa mengubah cost sehingga mengubah jalur routing agar jarak jalur antar router yang mengirim paket data bisa lebih cepat dari jalur sebelumnya.

Topology

Untuk labnya, kita akan menggunakan topology berikut ini. Dengan menggunakan 5 router dan sistem address yang masih sama pada artikel routing routing biasanya. Untuk areanya kita akan menggunakan multi area dimana area backbone berada di central. Dan pastinya jangan lupa memastikan interface yang digunakan oleh setiap router yang ada.

Persiapan Konfigurasi

Sebelum memulai konfigurasi, pastikan kalian mengkonfigurasi identitas address dan ip address terlebih dahulu pada setiap router. Hal ini bertujuan agar identitas router tidak berubah, dan saya hanya tinggal menjelaskan tentang konfigurasi routing dan konfigurasi costnya saja gaess.

Konfigurasi Ospf Interface dan Instance

Selanjutnya kita mulai konfigurasi pertama yaitu konfigurasi OSPF Interface dan instancenya terlebih dahulu. Masukan setiap interface yang ingin diadvertising nantinya dan berikan router id (ospf) pada setiap router nya. Seperti yang sudah pernah saya jelaskan sebelumnya, router id di setel pada setiap router agar routing ospf idnya tidak tertukar terhadap neighbor id pada router lain.

[admin@R1] > routing ospf interface add interface=ether1
[admin@R1] > routing ospf instance set 0 router-id=0.0.0.1
[admin@R2] > routing ospf interface add interface=ether1
[admin@R2] > routing ospf interface add interface=ether2
[admin@R2] > routing ospf interface add interface=ether3
[admin@R2] > routing ospf instance set 0 router-id=0.0.0.2
[admin@R3] > routing ospf interface add interface=ether1
[admin@R3] > routing ospf interface add interface=ether2
[admin@R3] > routing ospf interface add interface=ether3
[admin@R3] > routing ospf instance set 0 router-id=0.0.0.3
[admin@R4] > routing ospf interface add interface=ether1
[admin@R4] > routing ospf interface add interface=ether2
[admin@R4] > routing ospf instance set 0 router-id=0.0.0.4
[admin@R5] > routing ospf interface add interface=ether1
[admin@R5] > routing ospf instance set 0 router-id=0.0.0.5

Area dan Network

Setelah mengkonfigurasi interface dan instance ospf setiap router, sekarang kita konfigurasikan area (beberapa router) dan network di semua network yang ingin di advertising. 

[admin@R1] > routing ospf area add name=area1 area-id=0.0.0.1
[admin@R1] > routing ospf network add network=12.12.12.0/24 area=area1
admin@R2] > routing ospf area add name=area1 area-id=0.0.0.1
[admin@R2] > routing ospf network add network=12.12.12.0/24 area=area1
[admin@R2] > routing ospf network add network=23.23.23.0/24 area=backbone
[admin@R2] > routing ospf network add network=24.24.24.0/24 area=backbone
[admin@R3] > routing ospf area add name=area2 area-id=0.0.0.2
[admin@R3] > routing ospf network add network=23.23.23.0/24 area=backbone
[admin@R3] > routing ospf network add network=34.34.34.0/24 area=backbone
[admin@R3] > routing ospf network add network=35.35.35.0/24 area=area2
[admin@R4] > routing ospf network add network=24.24.24.0/24 area=backbone
[admin@R4] > routing ospf network add network=34.34.34.0/24 area=backbone
[admin@R5] > routing ospf area add name=area2 area-id=0.0.0.2
[admin@R5] > routing ospf network add network=35.35.35.0/24 area=area2

Pengecekkan

Setelah mengadvertising, pastikan mengecek tabel routing dan memastikan bahwa semua network sudah di advertising. Sehingga dengan begini, semua network sudah dapat terkoneksi dengan baik. Untuk pengecekkan tabel routing, bisa kita cek pada R1

[admin@R1] > ip route print
Flags: X - disabled, A - active, D - dynamic, C - connect, S - static, r - rip, b - bgp, o - ospf, m - mme,
B - blackhole, U - unreachable, P - prohibit
 #      DST-ADDRESS        PREF-SRC        GATEWAY            DISTANCE
 0 ADC  12.12.12.0/24      12.12.12.12     ether1                    0
 1 ADo  23.23.23.0/24                      12.12.12.2              110
 2 ADo  24.24.24.0/24                      12.12.12.2              110
 3 ADo  34.34.34.0/24                      12.12.12.2              110
 4 ADo  35.35.35.0/24                      12.12.12.2              110

Konfigurasi Cost

Secara default yang sudah saya jelaskan diatas tadi, cost di ospf mikrotik bernilai 10. Kalian bisa mengeceknya langsung pada konfigurasi ospf interface. Disetiap interface yang ingin kita advertisekan otomatis cost akan terbentuk dengan nilai 10.

[admin@R3] > routing ospf interface print
Flags: X - disabled, I - inactive, D - dynamic, P - passive
 #    INTERFACE                                COST PRIORITY NETWORK-TYPE   AUTHENTICATION AUTHENTICATION-KEY
 0    ether1                                     10        1 default        none
 1    ether2                                     10        1 default        none
 2    ether3                                     10        1 default        none
[admin@R3] >
Dilihat dari setiap interface dan cost yang terbentuk dengan sendirinya, seandainya kita melakukan test ping dari R1 ke R5, maka otomatis R1 akan menjumlahkan nilai cost setiap interface agar sampai ke R5 dengan cepat. Denga begitu, R1 akan menggunakan jalur bawah yang memiliki cost terendah dibandingkan dengan jalur atas.


Namun seandainya jalur bawah itu menggunakan link yang lambat, dan jalur atas adalah jalur cepat dan juga bisa menampung bandwidht yang cukup besar. Karena hal tersebut, maka pengubahan angka cost perlu dilakukan. Dengan mengubah angka cost, maka jalur routing ospf pun akan berubah juga sesuai dengan cost yang terendah yang sudah kita setting. Langusng saja, untuk perubahan cost kita akan ujicoba jalur dari R5 ke R1.
 

Sesuai dengan gambar diatas, cost yang perlu dirubah yaitu pada R3 interface 1, R3 interface 3 dan R4 interface1. Perubahan cost ini harus memperhatikan aspek interface tersebut. 

[admin@R3] > routing ospf interface print
Flags: X - disabled, I - inactive, D - dynamic, P - passive
 #    INTERFACE                                COST PRIORITY NETWORK-TYPE   AUTHENTICATION AUTHENTICATION-KEY
 0    ether1                                     10        1 default        none
 1    ether2                                     10        1 default        none
 2    ether3                                     10        1 default        none
[admin@R3] > routing ospf interface set 0 cost=70
[admin@R3] > routing ospf interface set 2 cost=20
[admin@R4] > routing ospf interface print
Flags: X - disabled, I - inactive, D - dynamic, P - passive
 #    INTERFACE                                COST PRIORITY NETWORK-TYPE   AUTHENTICATION AUTHENTICATION-KEY
 0    ether1                                     10        1 default        none
 1    ether2                                     10        1 default        none
[admin@R4] > routing ospf interface set 0 cost=30 

Pengecekkan Akhir

Setelah berubah arah jalurnya, kita coba test pengecekkan menggunakan traceroute pada R5. Maka ketika kita mengecek arah jalur ke 12.12.12.1 (R1), jalur yang akan dilewati R5 adalah menggunakan jalur atas. Sementara itu, kita juga bisa melihat cost yang sudah disiapkan oleh routing table ospf. 

Kita sebut ini adalah route cost ospf table. Kalian bisa mengecek table cost tersebut menggunakan perintah routing ospf route print.  Dan sesuai topology, cost yang dilalui R5 ke R1 adalah 70 cost.

[admin@R5] > tool traceroute 12.12.12.1
 # ADDRESS                                 RT1   RT2   RT3   STATUS
 1 35.35.35.3                              4ms   2ms   2ms
 2 34.34.34.4                              6ms   7ms   6ms
 3 23.23.23.2                              12ms  7ms   9ms
 4 12.12.12.1                              10ms  9ms   9ms
[admin@R5] > routing ospf route print
 # DST-ADDRESS        STATE          COST                        GATEWAY         INTERFACE
 0 12.12.12.0/24      inter-area     70                          35.35.35.3      ether1
 1 23.23.23.0/24      inter-area     70                          35.35.35.3      ether1
 2 24.24.24.0/24      inter-area     60                          35.35.35.3      ether1
 3 34.34.34.0/24      inter-area     30                          35.35.35.3      ether1
 4 35.35.35.0/24      intra-area     10                          0.0.0.0         ether1
Demikian penjelasan mengenai konfigurasi routing ospf cost. Semoga artikel ini menambah wawasan kalian mengenai routing ospf dan routing pada mikrotik. Sekian dari saya, saran dan pertanyaan silahkan letakkan di komentar. Terima kasih sudah berkunjung. Salam networking!!

Kenal Saya

Follow My Twitter

Profil



Nama saya Alfa Farhan Syarief, web ini ada berdasarkan nama saya sendiri. Saya sendiri masih duduk tingkat SMK. Lebih lengkapnya saya masih bersekolah di SMKN 1

More »

Blog Archive

Recent Comment